Tampilkan postingan dengan label Petuah Sesat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petuah Sesat. Tampilkan semua postingan

Kenapa Umat Islam Lebih Mudah Terhina

Unknown | 21.25 | 12 komentar

Akhir-akhir ini kembali marak beberapa berita yang dianggap beberapa kalangan telah melecehkan agama. Apalagi berkaitan dengan agama Islam. Seperti munculnya film Innocence For Muslim yang menuai banyak kritik dan demonstrasi menentang film tersebut. Karena dianggap menghina nabi Muahammad dan umat Islam.

Mengapa Islam menjadi agama yang gampang sekali untuk dilecehkan. Dengan fenomena tersebut kenapa  umat Islam lantas beramai-ramai menggelar aksi-aksi penentangan yang luar biasa, sibuk mencari ayat-ayat untuk meng-adzab mereka yang telah dianggap melecehkan nabi dan Islam.

Itu karena yang mereka pahami tentang Islam sebagai agama, adalah berhala. Baik secara fisik maupun psikis. Islam bagi mereka adalah Kabah, Kuburan Muhammad dan para sahabatnya, Mesjid Nabawi, Fisik Alquran, dan kumpulan tubuh umat Islam. Bila salah satu dari artefak kebudayaan ini tersentuh, dijamah, apalagi diganggu oleh umat manusia, maka mereka serentak mengamuk seperti lebah menyerbu mangsa.

Begitu juga secara psikis. Bila wacana, bila teks-teks yang bernuansa Islam, bernuansa Arab, dikritik oleh manusia lain, maka serentak kalimat-kalimat tameng akan muncul: "Tolong jangan hina agama kami, janganlah menghina Allah dan RasulNya. Ini agama. Bukan maianan. Sadarlah. Tapi jika kalian tidak peduli, maka kami tidak akan pernah tinggal diam."

Dengan kata lain, agama, Islam, Arabisme, adalah diatas segalanya bagi mereka. Melebihi nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Darah, nyawa, caci maki, hujatan kafir haram jaddah, menjadi sah bila sudah menyangkut perjuangan dalam "membela agama."

Bagi saya, itulah penyakit kekanak-kanakan. Islam menjadi berhala yang menjauhkan umatnya dari esensi nilai-nilai. Disulap menjadi pemujaan akan artefak-artefak kebudayaan, dalam hal ini Arabisme.

Mereka menyebutnya jihad. Tapi saya menyebutnya sekterianisme. Semua itu adalah ideologi. Sebuah utopia yang tak pernah berpijak di bumi. Imajinasi sosial yang berbahaya untuk kemaslahatan kemanusiaan dalam arti sesungguhnya.

Keyakinan, sesungguhnya mirip telaga bening ditengah rimba belantara. Sebuah hening yang tak pernah terusik oleh hiruk pikuk dunia. Karena keyakinan, ada didalam, bukan diluar. Tapi umat Islam, melihat Islam dalam sorak-sorai. Dalam hingar bingar karnaval sosial. Dalam yel yel para demonstran Islamiah.

Bagi saya, Tiada kemuliaan melebih nilai-nilai kemanusiaan. Dan itu Universal. Abadi sepanjang masa. Tapi agama, Islam, hanya sebuah ekspresi kebudayaan. Lahir disuatu waktu dan tempat yang bernama Arab 14 Abad silam. Sedang nilai-nilai kemanusiaan, serentak adanya begitu manusia ada. Karena nilai-nilai itu inklud dalam kesadaran batin manusia. Tanpa label tanpa klaim apa-apa.



Fatwa Larangan Untuk Berpuasa

Unknown | 13.58 | 3 komentar
Fatwa ini disampaikan oleh Majelis Ulama Belajar Saraf :

BAHWA
Jika anda masih marah melihat saya makan didekat anda.
Jika anda masih mengumpat kenapa saya dengan cuek merokok didepan anda.
Jika anda membenci saya yang tidak simpati pada gembar gembor Ramadhan.
Jika anda kesal dan ingin Tuhan mencelakakan hidup saya karena tidak puasa.

MAKA
Berhentilah anda untuk berpuasa.
Berhentilah anda menahan haus dan lapar.
Berhentilah menyiksa diri anda dengan menahan ini dan itu.
Dan marilah kita nonton video porno sama-sama.

Kenapa?
Karena anda sebenarnya tidak ingin puasa.
Tapi hanya ingin tampak sebagai orang baik-baik
Ingin menunjukkan pada dunia bahwa anda taat dan beriman.

Itulah jenis puasa omong kosong!



Kenapa Saya Tidak Perlu Puasa Ramadhan ?

Unknown | 13.19 | 3 komentar
Sudah sejak kecil saya diberi tahu bahwa puasa Ramadhan adalah untuk Tuhan. Dan Tuhanlah yang akan langsung memberikan nilai pahalanya. Dan berbagai kemudahan, diberikan Tuhan selama bulan Ramadhan. Mulai dari semua pintu sorga dibuka, pintu neraka ditutup, setan dibelenggu, segala kebaikan dicatat sekian kali lipat dan segala keburukan tidak dicatat malaikat. Dan masih banyak kemudahan lainnya.

Tapi meski begitu agung dan indahnya kemudahan yang diberikan Tuhan pada bulan Ramadhan, namun siapa yang tidak melakukannya maka dia akan berdosa. Apa sebabnya? Karena puasa adalah rukun Islam yang ketiga. Wajib hukumnya. Meninggalkannya berarti tidak lagi menjadi Islam secara syariat.

Ternyata Puasa Ramadhan Itu Tidak Wajib

Unknown | 11.12 | 5 komentar
Sebelum membaca tulisan ini, saya sarankan terlebih dahulu pada anda untuk mengecek kadar emosional anda. Karena saya tidak bertanggung jawab bila otak anda terjadi kejang-kejang disertai umpatan sumpah serapah yang keluar dari bibir anda. 


Kenapa saya mengatakan bahwa Puasa Ramadhan itu Tidak Diwajibkan Oleh Tuhan ? 

Jika kita memperhatikan betul ayat yang biasa disampaikan para khatib dalam khutbah maupun para penceramah di bulan puasa, tidak kita temukan satupun ayat yang secara tegas menyuruh kita berpuasa. Yang ada hanya larangan dan hal yang dibolehkan selama puasa. Lantas siapa yang mewajibkan kita berpuasa? 
 
Para kyai dan para ustadz mengatakan, kalimat yang berisi perintah puasa ada di dalam kalimat “Kutiba” dalam rangkaian kata “Kutiba ‘Alaikumus Shiyam”. Padahal, kata "kutiba" bermakna “dituliskan” bukan diwajibkan. Seandainya Allah mewajibkan puasa bagi kita, maka kata “kutiba” harusnya diganti “furidlo” ataupun “wujiba”, yang bermakna difardlukan atau diwajibkan. 

Penggunaan kata kutiba tersebut mengindikasikan bahwa. Hal tersebut sudah ada sebelum alquran diturunkan. Karena hal tersebut sudah menjadi konsekuensi logis dari kehidupan manusia, sehingga tanpa perlu diperintah sekalipun harusnya dilaksanakan, sebagaimana makan, minum, tidur, dan lain sebagainya

Sama halnya dengan perbuatan selain kaitannya dengan puasa, seperti shalat, qishash, dan wasiyat, tanpa perlu ada perintah sekalipun sudah menjadi konsekuensi bagi seorang mukmin untuk melakukannya. Contohnya wasiyat, tanpa diwajibkan sekalipun sudah lazim orang yang memberi pesan sebelum meninggal. Qishash, sudah wajar dilakukan jika hilangnya nyawa dibalas nyawa. Shalat, sudah menjadi hal yang lumrah jika seorang hamba mengabdi dan melaporkan diri kepada tuannya, sebagaimana makhluk pada khaliknya. Puasa, adalah sebuah manifesto dari rasa syukur atas nikmat yang kita terima selama sebelas bulan, berbagi dengan orang yang biasa kelaparan, dan lain sebagainya.

Sehingga, sejatinya puasa tidak diwajibkan oleh Allah. yang mewajibkan adalah diri kita sendiri dalam hakikat kita sebagai seorang manusia yang beriman. Jika selama ini anda berpuasa karena perintah Allah, maka segeralah berubah, dan berpuasalah karena itu konsekuensi dari keimanan anda.


Ber-Agama Dengan Akal Sehat

Unknown | 18.51 | 0 komentar

Sebuah pepatah Arab yang diyakini sebagai hadis Nabi mengatakan bahwa “agama adalah akal” (al-dinu huwa al-aql). Pepatah ini sering dikutip ulama dan sarjana Muslim untuk menegaskan bahwa beragama membutuhkan akal agar manusia tidak terjatuh ke dalam taklid buta yang bisa menyesatkan mereka. Saya senang dengan pepatah ini, bukan hanya karena ia menunjukkan aspek rasionalitas dari Islam, tapi juga karena pepatah itu, jika ditarik lebih jauh lagi, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan temuan para saintis tentang hubungan agama dan akal.

Agama bukan hanya akal, tapi merupakan produk akal manusia. Tanpa akal tak ada agama. Hanya makhluk hidup yang berakal yang beragama. Yang tak berakal tidak menciptakan agama dan tak pernah peduli dengan agama. Yang membedakan manusia dari hewan-hewan lainnya adalah akal yang dimilikinya. Akal adalah lambang kemajuan dalam proses evolusi makhluk-hidup yang panjang.

Akal adalah bentuk non-fisik dari otak. Ia bisa diumpamakan sebagai piranti lunak (software) yang berjalan di atas otak yang merupakan piranti keras (hardware) pada sebuah komputer. Seluruh hewan bertulang belakang (vertebrata) memiliki otak dan sebagian besar hewan tak-bertulang belakang (invertibrata) juga memiliki otak. Ukuran otak manusia lebih besar dibanding rata-rata ukuran otak hewan lainnya. Akal manusia juga merupakan yang tercanggih dibandingkan akal hewan-hewan lainnya.

Jika menggunakan analogi komputer, manusia memiliki prosesor (otak) terbaru dengan sistem operasi (akal) tercanggih, sementara hewan-hewan lain memiliki prosesor dan sistem operasi yang jauh tertinggal. Prosesor dan sistem operasi yang canggih dapat menciptakan banyak hal, seperti memroses kata, mendesain, merekam suara, memutar lagu, dan mengedit film. Sementara prosesor dan sistem operasi yang tertinggal hanya bisa melakukan kerja-kerja terbatas. Semakin tertinggal sebuah komputer semakin terbatas ia melakukan fungsinya, semakin canggih sebuah komputer semakin banyak kemungkinan yang bisa dilakukan.

Tentu saja, otak manusia jauh lebih kompleks dari komputer. Tapi analogi di atas setidaknya bisa membantu kita memahami perbandingan antara apa yang telah dilakukan manusia dengan otaknya dan apa yang telah dicapai hewan-hewan lain. Kita sering melihat dua buah komputer yang tampilan luarnya sangat mirip namun berbeda dalam kemampuan kerja yang dilakukannya. Komputer dengan “otak” yang lebih maju selalu memiliki kualitas dan kapasitas yang lebih baik.

Begitu juga manusia dibandingkan hewan-hewan lainnya. Yang membedakan mereka bukan bentuk fisiknya, tapi otaknya. Secara fisik, manusia dan kera (orangutan, gorila, dan simpanse) tak banyak memiliki perbedaan. Semua anggota tubuh yang dimiliki manusia juga dimiliki kera, dari kepala, tangan, kaki, jumlah jemari, bahkan bagian-bagian internal dalam tubuh mereka, seperti jantung, hati, empedu, dan ginjal. Bahkan, DNA, bagian paling penting yang membentuk tubuh manusia, tak banyak berbeda dari kera. Menurut penelitian terbaru, kedekatan DNA manusia dengan orangutan sekitar 96%, dengan gorila 97% dan dengan simpanse 99%. Dengan semua kemiripan ini, pencapaian manusia jauh melampaui semua hewan jenis kera itu. Mengapa?

Jawabannya adalah otak. Otak juga yang membedakan kera dari hewan-hewan lain. Para ilmuwan sepakat bahwa kera memiliki inteligensia di atas rata-rata hewan lainnya. Kera adalah satu-satunya jenis primata, selain manusia, yang memiliki kesadaran diri dan bisa menggunakan alat sederhana, seperti batu dan kayu. Otak kera memiliki ukuran yang lebih besar dari rata-rata hewan lain dan memiliki jaringan neuron yang sangat kompleks. Hanya otak manusia yang bisa menandingi otak kera, baik dalam hal volume maupun kerumitan jaringan.

Agama, seperti juga budaya dan produk-produk lainnya, adalah hasil kerja otak. Otaklah yang menciptakan bangunan, rumah, kuil, dan candi. Otak juga yang menciptakan konsep-konsep abstrak seperti kecantikan, keindahan, kekuasaan, kekuatan, kemurkaan, dan sebagainya. Konsep-konsep dalam agama, seperti tuhan, dewa, malaikat, setan, dan sejenisnya, tidak datang begitu saja. Ia lahir dari otak yang sudah berkembang, maju, dan memiliki kosakata yang cukup untuk mengungkapkannya.

Otak manusia juga yang mengembangkan agama dari bentuknya yang “primitif” hingga menjadi agama-agama modern yang sistematis seperti sekarang. Tentu saja, ada sebagian ritual primitif yang hilang, tapi ada sebagian lain yang dipertahankan. Selama otak manusia masih bisa menerima ritual-ritual itu (seberapapun absurd-nya), dia akan terus hidup, tapi jika otak manusia tak bisa lagi menerimanya, ritual-ritual itu akan lenyap. Misalnya, penyembelihan anak gadis untuk dipersembahkan kepada Tuhan (dewa) pernah menjadi ritual suatu agama, tapi ketika otak manusia tak lagi bisa menerimanya, ritual itu ditinggalkan.

Pada akhirnya, seperti kata pepatah Arab yang di atas: agama adalah akal. Tidak ada agama bagi yang tak berakal. Akal adalah pembimbing manusia yang paling alamiah. Tanpa akal, agama tak punya makna.


Saya Sudah Bertobat Dari Agama

Unknown | 19.46 | 0 komentar
Setelah bertahun-tahun saya tidur dibawah kolong agama,
Akhirnya saya sadar.
Ternyata saya tidak menemukan apa-apa.
Selain hanya menghafal kitab suci.
Mengulang-ulang kata-kata orang suci
Mengaminkan kata-kata para pemuka agama serta tim marketingnya

 
Seringkali saya dhujani ucapan pamungkas:“Kenalilah dirimu, maka kamu akan kenal Tuhanmu”

Tapi yang saya temukan,
Saya kehilangan siapa diri saya.
Yang saya lakukan,
Hanya memulung warisan dari masa kemasa
Menyemir mitos dan tahyul tua di lemari perpustakaan
Dan memproklamirkannya kemana-mana, seakan saya berkata:
“Lihat. Inilah saya. Orang beriman yang dekat dengan Tuhan.”

Tapi kini,
Saya sudah tobat.

Matahari mulai meluncur ke pembaringan
Dan kulihat Purnama sudah tersenyum


Maha Benar Engkau Rembulan
CahayaMu menembus waktu dan zaman.
Aku telah membuang selain Engkau
Dan saksikanlah Semesta Alam



Bedanya Taat Beragama Dan Memahami Agama

Unknown | 08.34 | 0 komentar
Secara sederhana taat biasanya dikonotasikan sebagai rajin melaksanakan ritual keagamaan. Misalnya seorang muslim rajin melakukan sholat, berdoa, puasa, zakat dan seterusnya. Begitu juga dengan rajin membaca Alquran. Dan hal-hal yang besifat seremonial keagamaan lainnya dalam agama Islam.

Filsafat Islam Itu Hanyalah Apologi

Unknown | 23.52 | 0 komentar
Kadang-kadang saya berpikir,pada prinsipnya tidak ada filsafat Islam,meskipun banyak penulisan sejarah yang mengatakan bahwa Islam pernah berjaya dalam dunia filsafat atau pemikiran. Bila dikilas balik secara kritis,filsafat Islam tak lebih dari duplikasi dari filsafat Yunani. Apa yang dilakukan Al Kindi,Al Farabi,Ibnu Rusyd dan seterusnya tampaknya hanya memaksakan filsafat Aristoteles ke dalam Alquran,usaha untuk mendamaikan Alquran dengan filsafat.

Me-Filsafat-i Kalimat Insya Allah

Unknown | 23.39 | 1 komentar
Secara gambang Insya Allah artinya adalah izin Allah, atas izin Allah, kalau Allah mengizinkan, dan sejenisnya.

Umat Islam sangat dianjurkan mengucapkan kalimat ini. Karena segala sesuatu,tidak akan terjadi di alam dan kehidupan ini tanpa kehendak Tuhan. Tanpa keinginan Tuhan. Tanpa seizin Tuhan. Karena itu mengatakan sesuatu, apalagi ketika berjanji dengan seseorang tanpa mengucapkan kalimat ini, dikatakan sikap yang takbur. Bahkan lebih jauh bisa dinilai sebagai sombong.

Tinggalkan Cara Berpikir Positif. Ganti Dengan Berpikir Realistis

Unknown | 12.49 | 7 komentar

Anda tentu pernah mendengar jargon seperti ini: “Suatu saat agama Islam pasti akan menang dan berjaya.” Ini namanya slogan. Atau utopia. Suatu halusinasi yang tak pernah ada dan tak mungkin menjadi kenyataan. Kenapa?

Karena kenyataannya, apa yang dialami manusia, maju mundurnya, kemalangan dan kemajuannya,adalah karena usahanya sendiri. Dan secara menyeluruh, secara kolektif, apa yang terjadi adalah karena proses dinamika sejarah. Atau proses dialetika hukum alam.

Benarkah Manusia Adalah Ciptaan Tuhan??

Unknown | 17.39 | 6 komentar
Kemarin teman saya menanyakan hal ini. Kenapa manusia ada? Jawaban saya saat itu adalah karena Seleksi alam memaksa leluhur untuk beradaptasi atau mati. Individu yang mengalami mutasi yang menguntungkan pada leluhur manusia berhasil selamat dan berkembang biak. Sesederhana itu.?
Namun setelah cukup lama berpikir, ternyata keberadaan manusia di Bumi sekarang tidak semata karena evolusi. Bila ditarik garis ke belakang, ke masa lalu, maka ada serentetan peristiwa luar biasa yang menandai kehadiran kita di Bumi. Mari kita telusuri ke masa lalu, apa saja yang menyebabkan mengapa manusia ada.

Mengapa Anda Tidak Perlu Beragama

Unknown | 12.54 | 7 komentar
Bahwa anda lahir ke dunia ini tanpa pernah anda pilih,
adalah fakta yang tak terbantah.
Bahwa tiba-tiba anda menghirup udara begitu lahir, lalu berpijak di bumi,
adalah fakta yang tak bisa ditolak.
Dan tidak bisa anda hindari.

Islam Fundamentalis dan Modernis

Unknown | 12.43 | 4 komentar
Membaca ayat-ayat Alquran yang sering dijadikan sebagai dasar jihad oleh kaum Islam Teroris, dan melihat sikap umat Islam Fundamentalis yang intoleran dan anarkis, sebagian pihak berangan-angan agar Islam dibumihanguskan, demi terciptanya cita rasa humanisme yang non sektarian dalam kehidupan sosial.

Tan Malaka Dan Atheis

Unknown | 22.50 | 0 komentar
Beberapa waktu yang lalu, masyarakat Kabupaten di Kabupaten Dharmasraya khususnya, dan masyarakat Sumatera Barat pada umumnya, lebih luas lagi masyarakat Minang, dikejutkan oleh ulah Alexander Aan. Masyarakat terkejut ulah Aan, sebab secara terbuka, di akun facebook-nya, ia mengaku sebagai seorang ateis. Masyarakat terkejut ulah Aan sebab ia melakukan hal yang demikian di lingkungan yang selama ini terkenal dengan kuatnya masyarakat memegang nilai-nilai agama.

Buat Saya Uang Jauh Lebih Berharga Dari Pada Agama

Unknown | 22.19 | 9 komentar
Saya ingin jujur-jujur saja.
Bagi saya uang jauh lebih penting dari agama
Karena saya tidak bisa hidup tanpa uang. Karena nyaris setiap sisi kehidupan saat ini tidak ada yang bisa bebas dari uang. Bahkan agamapun tidak bisa hidup tanpa uang.

Teori - Teori Kemunculan Agama

Unknown | 12.44 | 0 komentar
Ini adalah beberapa teori kemunculan agama yang saya ketahui :

1. Agama muncul karena kebodohan manusia.
Menurut pendapat teori ini, bahwa agama muncul karena kebodohan manusia. August Comte peletak dasar aliran positivisme menyebutkan, bahwa perkembangan pemikiran manusia dimulai dari kebodohan manusia tentang rahasia alam atau ekosistem jagat raya. Pada mulanya periode primitif karena manusia tidak mengetahui rahasia alam, maka mereka menyandarkan segala fenomena alam kepada Dzat yang ghaib.

Menjadi Sesat Itu Tidak Gampang

Unknown | 11.41 | 0 komentar
Ada satu hadits yang cukup populer di kalangan kaum muslim: “umatku kelak akan terpecah-pecah ke dalam 71 golongan yang berbeda-beda, dan hanya satu dari mereka yang selamat.” Ramalan Nabi dalam hadits tersebut terasa murung bukan hanya karena perpecahan umat ke dalam beragam aliran digambarkan sebagai sesuatu yang tak terelakkan, melainkan juga karena sebagian besar dari mereka oleh hadits tersebut divonis sesat dan bakal masuk neraka. Hanya satu kelompok saja yang Islamnya benar dan layak masuk surga.

Saya Sekarang Telah Kafir

Admin | 21.46 | 5 komentar
Seringkali saya mendengar dan membaca dalam forum-forum diskusi atau dalam obrolan sehari-hari yang membahas tentang agama, aliran kepercayaan ataupun membahas tentang Tuhan, biasanya muncul statemen-statemen dari seseorang yang meng-kafir-kan atau menyesatkan pendapat orang lain.

Mengapa Saya Berhenti Berdo'a Pada Tuhan

Unknown | 06.21 | 5 komentar
Pada saat itu permasalahan datang pada saya, lalu kemudian saya segera bergegas mengambil air wudhu' lalu menengadahkan tangan dan berdo'a.....

Mulailah saya mengawali do'a saya. "Dengan menyebut namaMu ya Tuhan........." tapi saya terhenti sejenak dan berfikir, "mengapa nama Tuhan saya panggil-panggil,? memangnya Tuhan tidak mendengar saya,? bukankah Tuhan maha Mendengar,!!" Sejak saat itu saya berhenti memanggil-manggil nama Tuhan.

Jika Tuhan Itu Ada, Pasti Manusia Tidak Sepintar Sekarang

Unknown | 10.25 | 14 komentar
Hati-hati membaca tulisan ini. Karena tulisan ini bukanlah hasil karya penelitian ilmiah, bukan pula hasil ijtihad para ulama. Tapi hanyalah pendapat saya pribadi. Jadi sebaiknya gunakan nalar anda tanpa membawa-bawa iman.

Maksud dari judul saya diatas adalah, karena saya sudah sangat bosan mendengar jawaban-jawaban peng-khotbah agama tentang segala sesuatu itu disebabkan oleh Tuhan. Apakah tidak ada jawaban lain selain itu..? Atau karena kita memang sudah malas untuk berpikir, malas belajar, atau malas untuk mencari tahu..?