Kenapa Umat Islam Lebih Mudah Terhina

Nazie Anaz | 21.25 | 13 komentar

Akhir-akhir ini kembali marak beberapa berita yang dianggap beberapa kalangan telah melecehkan agama. Apalagi berkaitan dengan agama Islam. Seperti munculnya film Innocence For Muslim yang menuai banyak kritik dan demonstrasi menentang film tersebut. Karena dianggap menghina nabi Muahammad dan umat Islam.

Mengapa Islam menjadi agama yang gampang sekali untuk dilecehkan. Dengan fenomena tersebut kenapa  umat Islam lantas beramai-ramai menggelar aksi-aksi penentangan yang luar biasa, sibuk mencari ayat-ayat untuk meng-adzab mereka yang telah dianggap melecehkan nabi dan Islam.

Itu karena yang mereka pahami tentang Islam sebagai agama, adalah berhala. Baik secara fisik maupun psikis. Islam bagi mereka adalah Kabah, Kuburan Muhammad dan para sahabatnya, Mesjid Nabawi, Fisik Alquran, dan kumpulan tubuh umat Islam. Bila salah satu dari artefak kebudayaan ini tersentuh, dijamah, apalagi diganggu oleh umat manusia, maka mereka serentak mengamuk seperti lebah menyerbu mangsa.

Begitu juga secara psikis. Bila wacana, bila teks-teks yang bernuansa Islam, bernuansa Arab, dikritik oleh manusia lain, maka serentak kalimat-kalimat tameng akan muncul: "Tolong jangan hina agama kami, janganlah menghina Allah dan RasulNya. Ini agama. Bukan maianan. Sadarlah. Tapi jika kalian tidak peduli, maka kami tidak akan pernah tinggal diam."

Dengan kata lain, agama, Islam, Arabisme, adalah diatas segalanya bagi mereka. Melebihi nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Darah, nyawa, caci maki, hujatan kafir haram jaddah, menjadi sah bila sudah menyangkut perjuangan dalam "membela agama."

Bagi saya, itulah penyakit kekanak-kanakan. Islam menjadi berhala yang menjauhkan umatnya dari esensi nilai-nilai. Disulap menjadi pemujaan akan artefak-artefak kebudayaan, dalam hal ini Arabisme.

Mereka menyebutnya jihad. Tapi saya menyebutnya sekterianisme. Semua itu adalah ideologi. Sebuah utopia yang tak pernah berpijak di bumi. Imajinasi sosial yang berbahaya untuk kemaslahatan kemanusiaan dalam arti sesungguhnya.

Keyakinan, sesungguhnya mirip telaga bening ditengah rimba belantara. Sebuah hening yang tak pernah terusik oleh hiruk pikuk dunia. Karena keyakinan, ada didalam, bukan diluar. Tapi umat Islam, melihat Islam dalam sorak-sorai. Dalam hingar bingar karnaval sosial. Dalam yel yel para demonstran Islamiah.

Bagi saya, Tiada kemuliaan melebih nilai-nilai kemanusiaan. Dan itu Universal. Abadi sepanjang masa. Tapi agama, Islam, hanya sebuah ekspresi kebudayaan. Lahir disuatu waktu dan tempat yang bernama Arab 14 Abad silam. Sedang nilai-nilai kemanusiaan, serentak adanya begitu manusia ada. Karena nilai-nilai itu inklud dalam kesadaran batin manusia. Tanpa label tanpa klaim apa-apa.



Download Gratis Film Innocence Of Muslims

Nazie Anaz | 21.33 | 0 komentar
Silahkan anda download Film Innocence Of Muslims di bawah


Kapasitas video 46,7 MB




Tonton langsung filmnya DISINI



Nonton Langsung Film Innocence Of Muslim Disini

Nazie Anaz | 18.40 | 0 komentar
Buat anda yang ingin lihat langsung seperti apa film yang telah menghebohkan tersebut, tonton langsung disini.

Sutradara Film Innocence Of Muslim di Tangkap

Nazie Anaz | 18.25 | 1 komentar

Nakoula Basseley Nakoula atau ‘Sam Bacile’, sutradara film ‘Innocence of Muslims’ akhirnya muncul ke publik. Meski begitu, fisiknya masih misterius karena dia menutupi seluruh wajah.

Diberitakan reuters, pria berdarah Mesir itu muncul saat diperiksa polisi Califorrnia, Amerika Serikat. Dia tampak mengenakan topi, selendang yang menutupi wajah dan kacamata hitam. Dia digiring oleh para sheriff kota tersebut.

Setelah dicecar dengan sejumlah pertanyaan, Nakoula akhirnya diperbolehkan pulang. Sebelumnya dia sempat dipenjarakan selama 21 bulan karena memalsukan identitas.

Nakoula diduga bertanggung jawab atas pembuatan film ‘Innocence of Muslims’ yang berisi penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam. Film yang beredar luas di situs YouTube itu membuat umat Islam di seluruh dunia marah. Sebagian ada yang protes hingga berujung pada aksi kekerasan. 14 Orang demonstran meninggal dunia. Sementara Dubes AS di Libya juga ikut menjadi korban. (mad/vta – Rachmadin Ismail - detikNews)

Film ini pernah ditayangkan di salah satu bioskop di kawasan Hollywood, AS, sekitar 3 bulan lalu. Namun setelah itu film ini menghilang tanpa jejak. Hingga pada akhirnya muncullah versi bahasa Arab yang dirilis pekan lalu dan cuplikannya ditayangkan oleh televisi Mesir yang kemudian memancing protes.

Sementara itu, keberadaan pria yang disebut-sebut sebagai sutradara film ini juga masih misterius. Dalam artikel Wall Street Journal yang diterbitkan Selasa lalu, pria bernama Sam Bacile yang mengaku sebagai sutradara ini memberikan komentar dan pernyataan soal polemik dan kontroversi yang menyertai film ini.

Kepada Wall Street Journal, Bacile mengaku dirinya seorang warga negara Amerika keturunan Israel dan mendapatkan sumbangan dari para penganut Yahudi untuk biaya film ini. Hingga saat ini keberadaan Bacile masih misterius.

Sejumlah kecurigaan terhadap identitas Bacile pun menyeruak. Seorang konsultan film AS, Steve Klein, menyebut bahwa Sam Bacile merupakan nama samaran belaka. Identitas sutradara ‘Innocence of Muslims’ tersebut kini sudah terkuak.

Kairo, Pengamanan di kantor Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat di Kairo, Mesir diperketat menyusul aksi demo yang terjadi di sejumlah perwakilan AS di Mesir dan Libya.

“Ada peningkatan keamanan di Kairo, khususnya di sekitar kompleks kedutaan AS, menyusul unjuk rasa yang terjadi sejak kemarin,” ujar seorang pejabat keamanan Mesir kepada AFP.

Tidak hanya berunjuk rasa, ribuan demonstran ini juga menyerang kantor kedubes dan merobek bendera AS. Pejabat Mesir tersebut mengatakan, sejauh ini belum ada demonstran yang ditangkap terkait unjuk rasa tersebut.

Dikatakan pejabat itu, salah satu alasan peningkatan keamanan karena para demosntran bersikeras untuk bertahan di depan kantor kedubes AS semalaman.

Aksi demo tersebut berkaitan dengan sebuah film kontroversial buatan sutradara kelahiran Mesir-Amerika, yang dinilai merendahkan Islam dan Nabi Muhammad. Menurut Wall Street Journal, film ini dinilai telah mengambarkan Islam seperti penyakit ‘kanker’ dan menggambarkan Nabi Muhammad tidur dengan sejumlah wanita.

Aksi serupa juga terjadi di Libya, yakni di depan kantor Konsulat AS di Benghazi. Tragis, Dubes AS untuk Libya Christopher Stevens dan 3 stafnya tewas dalam serangan demonstran tersebut. Mereka membakar dan melempar granat ke arah kantor Konsulat AS. Namun dilaporkan, Dubes Stevens tewas akibat diserang roket oleh demonstran, yang diperkirakan sebagai para loyalis mendiang pemimpin Libya Muammar Khadafi.



Heboh Film Kontroversial Innocence Of Muslims

Nazie Anaz | 17.42 | 0 komentar

Baru-baru ini muncul pemberitaan yang begitu menghebohkan dunia tentang kontroversialnya Film Innocence Of Muslims. Sampai-sampai di Indonesia pun tidak luput ikut meramaikan kehebohanya.

Dari pantauan di Youtube, film berdurasi pendek itu muncul dalam beberapa bagian video. Jumlah penontonnya ada yang 800 ribuan, hingga ratusan. Sebelum bisa menonton film, YouTube sudah memberi peringatan khusus bahwa film tersebut diidentifikasi sebagai film yang provokatif dan tidak etis. Tidak semua boleh menonton.

"The following content has been identified by the YouTube community as being potentially offensive or inappropriate. Viewer discretion is advised," demikian pesan YouTube.

Seperti dilansir AFP, film ini mengisahkan tentang kehidupan Nabi Muhammad yang, parahnya, dibumbui dengan tema pedofil dan homoseksualitas. Sejumlah adegan dalam film yang berdurasi 2 jam ini telah diunggah ke internet dan bisa juga dilihat di sejumlah saluran satelit privat.

Secara keseluruhan, film ber-budget rendah ini menggambarkan kehidupan umat muslim sebagai manusia tak bermoral dan sarat dengan kekerasan. Jika dilihat dari segi kostum yang sangat amatir, kemudian naskah yang sekenanya dan backdrop palsu, film ini sama sekali tidak menarik perhatian.

Namun semenjak diunggah ke internet, banyak pihak yang mengecam dan memprotes film ini karena konten yang ada di dalamnya. Bagaimana tidak, jika film ini terang-terangan menggambarkan Nabi Muhammad sebagai pria yang gemar tidur dengan banyak wanita dan sering membicarakan soal pembunuhan anak-anak.

Perlu diketahui bahwa film ini dibuat oleh seorang pria keturunan Israel-Amerika, Sam Bacile. Tidak banyak hal yang bisa diketahui soal Bacile yang juga berprofesi sebagai pengembang real-estate di California selatan, AS ini.

Dalam wawancaranya dengan Wall Street Journal, pernyataan-pernyataan Bacile semakin menuai kontroversi. Dimana dia menyebut Islam sebagai agama yang penuh kebencian.

"Islam itu seperti penyakit kanker," tutur Bacile.

Bacile menuturkan, dirinya bertanggung jawab sepenuhnya atas film yang mulai diunggah ke internet sejak Juli lalu. Kepada Wall Street Journal, Bacile mengungkapkan biaya film ini mencapai USD 5 juta dan berasal dari sejumlah donatur penganut Yahudi yang enggan dia sebutkan identitasnya.

Film ini dibuat tahun 2011 lalu dan memakan waktu selama 3 bulan, dengan sebagian besar lokasi syuting berada di California, AS. Bacile menuturkan, dirinya bekerja sama dengan 60 aktor dan 45 orang kru untuk memproduksi film ini.

"Film ini adalah sebuah film politik. Bukan sebuah film religius," tandas pria yang berusia 52 tahun ini.

Di Mesir, film ini memicu gugatan hukum yang diajukan seorang wartawan Mesir terhadap produser film ini. Disebutkan dalam gugatan tersebut bahwa film ini sengaja ditujukan untuk 'menyerang Islam'. Gugatan ini diawali oleh pemberitaan sejumlah media Mesir yang menyebut sejumlah umat Kopstik Mesir yang tinggal di AS ikut terlibat dalam pembuatan film ini. Pemerintah Mesir pun didesak untuk melepaskan kewarganegaraan orang-orang Mesir yang terlibat dalam film ini.

Film ini memicu unjuk rasa besar-besaran di Kairo, Mesir dan Benghazi, Libya. Ribuan demonstran menyerbu dan menyerang kantor kedutaan dan konsulat AS di dua wilayah tersebut. Tragis, Dubes AS untuk Libya Christopher Stevens beserta 3 stafnya tewas akibat serangan yang terjadi pada 11 September malam waktu setempat. Mereka tewas akibat serangan roket yang mengenai mobil yang mereka naiki saat akan meninggalkan gedung konsulat menuju tempat yang lebih aman. Pemerintah Libya terang-terang menyebut pelaku pembunuhan Stevens ini merupakan para loyalis mendiang Muammar Khadafi.