Mengapa Tidak Perlu Merayakan Tahun Baru

Nazie Anaz | 16.02 |
Banyak hal yang mungkin disiapkan oleh berbagai pihak untuk merayakan tahun baru kali ini, mulai dari mall, hotel, pub, hotel dan banyak tempat lagi. Mulai dari permainan kembang api, party diberbagai tempat, konser musik, sekedar nongkrong dipinggir jalan dan banyak hal lagi yang dilakukan berbagai jenis manusia di muka bumi ini. Tidak sedikit juga yang mempersiapkan diri untuk punya acara sendiri masing-masing, bersama teman atau keluarga atau pasangan. Semuanya punya persiapan masing-masing. Bagaimana dengan anda sendiri?

Berbagai jenis kegiatan bisa disaksikan di televisi dan berbagai media lainnya. Saya melihat pada saat zaman penjajahan, dimasa akulturasi budaya mulai masuk ke Indonesia, perayaan tahun baru ala masyarakat eropa mulai dikenal Indonesia, yang kemungkinan dahulu hanya mengenal tahun baru Islam yang ditandai berubahnya tanggalan menjadi 1 muharram atau tahu baru Jawa dengan 1 Suro nya. Selain itu almanak tionghoa juga mengenal Imlek untuk perayaan tahun barunya. Esensi tahun baru masehi, kalau dilihat dari berbagai sumber lebih mengarah kepada semangat kumpul bersama antar keluarga besar berkunjung dan bersilaturahmi untuk kumpul bersama dan makan malam bersama sambil sama-sama bernyanyi dan bermain musik.

Bagaimana dengan keadaan saat ini. Terlihat lebih hura-hura dengan jumlah uang yang besar. Hedonisme? Silakan membentuk opini anda sendiri karena saya bukan sosiolog. Banyak hal yang juga cukup mengganggu pada saat pelaksanaan tahun baru. Kita bisa menyaksikan kehebohan besar saat perayaan tahun baru di mana-mana. Konser besar meriah diadakan disana dengan mendatangkan berbagai artis top ibukota uuk bernyanyi. Puluhan ribu penonton berjubel untuk menonton pertunjukan tersebut. Saya yakin, kebahagiaan dan kesenangan bercampur aduk jadi satu disana. Semua orang senang dan puas setelah menyksikan acara tersebut.

Tapi keesokan hari setelah acara berlangsung, masalah kembali muncul. Ratusan kilogram sampah juga menghiasi tempat tersebut. Pengunjung yang datang untuk menikmati keindahan pantai menjadi resah. Pihak pengelola sudah berusaha menyediakan tempat sampah. Tapi apakah para penonton bisa sadar bagaimana sebaiknya mereka mengelola sampah dirinya sendiri. Sudah disiapkan tempat sampah, tapi apakah itu akan cukup untuk orang sebanyak ini? Pengelola sendiri mengerahkan banyak orang petugas pembersih sampah dan itu bisa diselesaikan  berhari-hari.

Beberapa kerusuhan menyangkut tahun baru juga sering terjadi di Indonesia, kecelakaan akibat konvoi kendaraan, dan lebih miris lagi di ternate, terjadi kebakaran akibat beberapa anak yang membakar petasan dan mengenai petasan lain yang dijajakan dipinggir jalan, ledakan besar tersebut akhirnya mengenai beberapa toko dan rumah. Belum lagi fenomena lain yang cukup menyedihkan. Angka penjualan obat kuat meningkat dan penjualan kondom juga meningkat dan pembelinya adalah remaja yang belum menikah. Banyak yang bilang miris, tapi siapa yang perduli? Tetap saja masalah ini setiap tahun berlangsung. Siapa yang wajib mengawasi? Banyak hal lain yang terjadi disaat pergantian tahun baru, segi positif maupun negatif.

Banyak yang bilang, pergantian tahun dimaknai dengan instropeksi selama 1 tahun kebelakang, tentang segala yang telah dilakukan dan bagimana pencapaian resolusi 1 tahun kebelakang. Tapi kenapa hal tersebut harus dilakukan pada saat akhir tahun? Kenapa tidak setiap hari? Haruskah menyiapkan strategi di setiap awal tahun? Ada banyak hal positif dan negatif yang telah dilakukan dan bisa saja terlupa. Bahagianya rakyat Indonesia jika semuanya bisa intropeksi dengan banyak kejadian yang sudah dilewatkan. Jangan lupa panjatkan doa untuk mengawali kegiatan di tahun ini dan berharap semuanya akan lebih baik. Semoga perayaan tahun baru memberikan kesenangan sepanjang tahun.


Postingan yang Bersenggama



Comments
0 Comments

0 komentar :

Poskan Komentar

Silahkan tulis komentar atau sumpah serapah anda disini.
Belum tahu cara berkomentar? klik saja DISINI