Mengapa Tuhan Tidak Perlu Di Buktikan..?

Nazie Anaz | 11.42 |
Saat saya sedang duduk-duduk santai di sebuah warung kopi biasa, dihadapan saya ada 2 orang yang sedang berdiskusi sengit. Saya rasa anda juga perlu menyimak debat seru antara Sesatun dan Muslimun tentang bukti ada dan tidak adanya Tuhan berikut ini.

Sesatun : Mana yang anda sebut bukti Tuhan itu ada mana?

Muslimun :
Alam ini kan bukti adanya Tuhan. Apa anda tidak lihat bagaimana menganggumkannya sistem alam ini?

Sesatun :
Itu bukan bukti. Itu pengandaian. Anda harus bedakan bukti dengan pengandaian. Kalau bukti itu seperti saya melihat anda sekarang. Saya bisa lihat anda. Saya bisa raba. Saya bisa dengar suara anda. Bahkan saya bisa tampar mulut anda yang sok tahu itu.

Muslimun :
Lho kalau bisa dilihat dengan panca indra mana mungkin. Namanya juga Tuhan. Tuhan itu ghaib.

Sesatun :
Dari mana anda tahu bahwa Tuhan itu ghaib?

Muslimun :
Ya dari Kitab Suci.

Sesatun :
Dari mana anda tahu Kitab Suci itu benar.

Muslimun :
Dari Tuhan.

Sesatun :
Anda kok muter-muter sih. Jawaban anda itu bukan membuktikan akan tetapi keyakinan. Kalau yang namanya bukti itu tidak ada urusannya dengan keyakinan. Contohnya sekarang. Apa ada yang menolak bahwa anda tidak ada? Walaupun mereka beragama atau tidak. Asal mereka bisa lihat anda, itu sudah terbukti bahwa anda ada.

Muslimun :
Okey. Sekarang saya mau tanya. Mungkinkah ada sesuatu tanpa ada yang menciptakannya? Mungkinkah alam ini tidak ada yang menciptakannya?

Sesatun:
Tidak mungkin.

Muslimun :
Nah terbukti kan?

Sesatun :
Alam ini bukan bukti adanya Tuhan. Anda saja yang mengandaikan adanya Tuhan. Anda percaya alam ini ada yang menciptkan, tapi anda tidak menemukan siapa yang menciptakanya, jadi anda mengandaikan, kira-kira Tuhan lah yang menciptakan alam ini.

Muslimun :
Huh, anda ini pintar sekali berkelit-kelit.

Sesatun :
Siapa yang pintar berkelit. Anda sendiri yang mutar-mutar bicara ke sana kemari. Padahal sederhana kok masalahnya. Kalau tidak ada buktinya ya kenapa tidak kita akui saja dengan jujur. Selesai kan masalahnya?

Muslimun :
Tapi bagaimana dengan para ahli yang menemukan ilmu pengetahuan alam yang kejadiannya sama persis dengan isi Kitab Suci? Padahal jauh sebelum penemuan itu sudah ada dinyatakan dalam kitab suci?

Sesatun :
Anda ini bagaimana sih. Yang mereka temukan itu kan ilmu pengetahuan, bukan Tuhan. Coba anda tunjukan mana contohnya bukti adanya Tuhan yang mereka temukan.

Muslimun :
Itu pertemuan dua air laut yang airnya saling tidak bisa melewati atau saling mengalir ke lawannya masing-masing. Padahal itu air laut tidak ada batasnya seperti dinding. Apa tidak aneh?

Sasatun :
Aneh ya aneh. Tapi apa hubungannya dengan adanya Tuhan?

Muslimun :
Jauh sebelumnya hal itu kan sudah dinyatakan dalam Kitab Suci. Terbuktikan bahwa Tuhan itu ada!

Sesatun :
Apanya yang terbukti. Terbukti ada kecocokan antara kejadian itu dengan Kitab Suci itu iya. Tapi tidak ada hubungannya dengan Tuhan?

Muslimun :
Ya itulah tanda keajaibannya. Kitab suci itu dari Tuhan. Dan terbukti kebenarannya dengan adanya penemuan seperti itu. Nah, itukan suatu bukti bahwa Tuhan ada?

Sesatun :

Anda ini terlalu mengada-ngada. Terlalu menyiksa diri. Itu namanya keyakinan. Karena adanya hal-hal menakjubkan seperti itu lalu anda kagum. Takjub. Rasa takjub itu membuat imajinasi anda meloncat secara vertical: “O .. pasti ada Tuhan nih. Penemuan itu juga cocok dengan ktab suci. Tidak mungkin tidak ada Tuhan nih”. Nah, itu kan bukan bukti. Itu pengandaian anda. Keyakinan anda. Kalau bukti ya bukti. Masak anda tidak bisa bedakan antara bukti dengan keyakinan.

Muslimun :
Anda selalu menarik-nariknya pada apa yang bisa dijangakau panca indra.

Sesatun :
Yang namanya bukti itu kan mesti di nampakkan, kalau tidak bisa ya sudah.

Muslimun :
Anda pernah merasa rindu pada seseorang?

Sesatun :
Sering. Apa masalahnya?

Muslimun :
Nah rasa rindu itu kan juga tidak bisa dilihat. Tidak bisa dijangkau dengan panca indra. Tapi dia ada kan?

Sesatun :
Betul dia ada. Saya tidak menolaknya. Karena saya memang merasakannya dalam diri saya. Walaupun itu tidak dengan panca indra. Lalu hubunganya dengan Tuhan?

Muslimun :
Nah, Tuhan walaupun tidak nampak tapi itu bisa kita rasakan dalam hati?

Sesatun :
Apa ukurannya bahwa yang saya rasakan itu adalah Tuhan? Coba anda jelaskan.

Muslimun :
Ya, ada rasa yakin dalam diri anda bahwa Tuhan itu ada.

Sesatun :
Nah, yakin kan? Anda bilang keyakinan. Bukan bukti kan?

Muslimun :
Ya yang anda rasakan dalam hati itulah buktinya.

Sesatun :
Anda ini kok mutar-mutar sih. Tadi sudah saya tanya. Apa buktinya bahwa yang dirasakan dalam hati itu adalah Tuhan. Tanda-tanda Tuhan maksudnya?

Muslimun :

Ya hati itu kan yang bisa merasakan kehadiran Tuhan?

Sesatun:
Kehadiran Tuhan? Kok anda tahu bahwa yang hadir itu adalah Tuhan? Jangan-jangan itu adalah setan, hantu, dedemit?

Muslimun :
Astaghfirullah...!!! Anda ini benar-benar orang kafir yang sesat.!!!

Sesatun :
Apakah orang beriman itu harus sering-sering mengkafirkan dan menyesatkan orang lain, seperti anda ini.? Kenapa tidak diakui saja memang tidak ada bukti. Selesai kan? Setelah itu apakah anda akan tetap meyakini adanya Tuhan atau tidak, itu sudah soal berikutnya.



Postingan yang Bersenggama



Comments
4 Comments

4 komentar :

  1. Wujud Alloh SWT yang muncul ke bumi baru satu kali saja ialah pada jaman Nabi Musa AS. Klw wujud di angkasa sana ialah di Sidratul Muntaha ketika Nabi Isro-Mi'roj.
    Arus listrik itu ada nama tapi tidak ada bukti (wujud),tapi saya yakin ini TV ada setrumnya. Kalau saya ingin dapat wujudnya arus listrik, sy akan masukin ini jari ke lubang steker, tapi sy tidak mau karena yakin nyetrum. Kalau ada orang yang ngotot kepingin bukti adanya arus listrik,monggo orang tersebut datang ke PLN dan pegang steker aktif di sana. Monggo di akui saja bahwa memang tidak ada bukti keberadaan itu listrik. Solusinya sudh di sampaikan sing kuoso klian mnusia jgn memikirkan ttg aku, sesungguhnya aku dekat lebih dekat dari urat leher kalian. Pikirkanlah tentang ciptaan-Ku. Sama juga arus listrik akan bilang manusia jgn pikirkan wujudqu,sesungguhnya aku ada dekat dengan kalian di rumah2 kalian. Pikirknlah bagaimana cara penggunaanku yang hemat dan lain2.

    BalasHapus
  2. Saya akui bahwa tidak ada bukti akan keberadaan kakek-nenek saya coz dia memang lagi di kampung halaman. Saya tetap yakin kakek-nenek saya ada tapi saya tidak ada bukti. Buktinya akan saya tunjukkan besok ketika mudik lebaran Agustus 2012 sehingga kakek-nenek saya menyambut saya dengan gembira karena cucu kesayangan-nya masih kuat keyakinannya akan keberadaan kakek-nenek-nya meskipun saya tdk bawa ketupat lebaran.
    Alloh-pun demikian,akan menyambut saya dengan gembira kelak di yaum akhir meskipun saya tidak bawa ketupat banyak ('ubudiyah).

    BalasHapus
  3. alam ini sudah menjadi bukti adanya pencipta

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada yang menciptakan alam, mungkin iya...
      tapi yang menciptakan adalah Tuhan, harus dibuktikan lebih lanjut...

      Hapus

Silahkan tulis komentar atau sumpah serapah anda disini.
Belum tahu cara berkomentar? klik saja DISINI