Sejarah Perjalanan Tuhan

Nazie Anaz | 01.47 |
Pada awalnya Tuhan berbentuk berhala

Tuhan berhala adalah Tuhan yang berwujud inderawi, baik yang sudah ada wujudnya di alam maupun yang dibuat sendiri oleh manusia. Yang sudah ada di alam adalah Tuhan berupa matahari, angin, api, gunung dan sebagainya. Sedang Tuhan berhala buatan manusia adalah berupa patung. Baik yang dibuat dari batu, semen, adonan kue maupun dari tanah liat.


Tuhan-tuhan berhala ini adalah Tuhan yang menyebalkan. Apapun doa dan permintaan hambanya tak pernah dijawab. Mereka diam saja. Bahkan diruntuhkan kembali bentuknya oleh manusia, tuhan tuhan ini tidak melawan. Dengan kata lain, Tuhan berhala ini tidak mempunyai kredibilitas sebagai Tuhan. Akibatnya, semakin manusia berpikir, maka tuhan berhala ini mulai disingkirkan dan akhirnya manusia membuat Tuhan baru.

Kemudian Tuhan berupa kumpulan Imajiner

Tuhan imajiner adalah Tuhan yang dibuat manusia dalam imajinasinya. Dalam pikirannya. Dalam khayalannya. Akibatnya, Tuhan menjadi tidak seragam. Walaupun sebagian manusia berkomplot, menulis rumusan Tuhan standar yang sudah diakui secara bersama-sama. Tapi meskipun sudah dibakukan dengan tinta dan kertas detail tentang Tuhan, tapi dalam imajinasi pemeluknya, dalam penghayatan masing-masing individu, tetap saja Tuhan mereka tidak sama. Tergantung pada kedalaman imajinasi mereka masing-masing. Tergantung pada kebutuhan dan harapan masing-masing penyembahnya.

Jika manusia lemah, maka dikatakannya Tuhan Maha Kuat. Jika manusia mulai kuat, maka dibayangkannya Tuhan Maha Baik. Tapi jika hidupnya selalu kacau dan menderita, maka dibayangkannya Tuhan Maha Penguji Kesabaran. Singkatnya Tuhan menjadi seperti karet yang selalu ditarik-ulur sesuai kondisi dan harapan manusia. Tuhan menjadi proyeksi oleh manusia itu sendiri.

Setelah itu Tuhan pun Mati

Setelah lelah mengukir Tuhan sedemikian rupa dalam pikirannya, dalam imajinasinya, dalam angan-angannya, dalam utopianya, maka akhirnya manusiapun merasa kelelahan. Mereka mencapai klimaks imajinasinya. Manusia merasa mual dengan Tuhan ciptaannya sendiri. Akhirnya semua Tuhan Tuhan imajiner itu dibunuhnya. Mereka campakkan segala pembicaraan tentang Tuhan. Karena mereka sadar, bahwa semua yang mereka bayangkan dan mereka katakan tentang Tuhan, tak lebih dari hanya kumpulan rongsokan imajinasi metafisis. Dibuat sendiri lalu diyakini sendiri.


Postingan yang Bersenggama



Comments
0 Comments

0 komentar :

Poskan Komentar

Silahkan tulis komentar atau sumpah serapah anda disini.
Belum tahu cara berkomentar? klik saja DISINI